Ukuran teks
18

Seorang Pria Tua di Ruang Pengadilan

Bayangkan ini: Athena, 399 Sebelum Masehi. 

Sebuah ruang pengadilan penuh sesak. 501 juri—warga Athena yang dipilih secara acak—duduk mengelilingi seorang pria tua berusia 70 tahun. Rambutnya putih. Tubuhnya kurus. Pakaiannya sederhana. 

Namanya: Socrates

Tuduhannya: Merusak moral pemuda Athena dan tidak percaya pada dewa-dewa yang diakui negara. 

Hukumannya jika terbukti bersalah: Mati

Di Athena kuno, ini bukan pengadilan dengan pengacara profesional. Terdakwa harus membela dirinya sendiri. Dan Socrates—filsuf yang telah menghabiskan seluruh hidupnya bertanya dan mengganggu orang-orang yang merasa bijaksana—kini berdiri untuk membela hidupnya. 

Tapi inilah yang luar biasa: Dia tidak memohon. Dia tidak menangis. Dia tidak merendahkan diri. 

Sebaliknya, dia memberikan salah satu pidato paling berani, paling tegas, dan paling berpengaruh dalam sejarah manusia—pidato yang akan dibaca dan dipelajari selama lebih dari 2.400 tahun. 

Plato, muridnya yang berusia 28 tahun, hadir di ruangan itu. Dan dia menulis setiap kata yang Socrates ucapkan. 

Buku "Apology" bukan permintaan maaf. Kata "apology" berasal dari bahasa Yunani "apologia" yang berarti pembelaan. Ini adalah pembelaan Socrates atas hidupnya, filosofinya, dan pilihannya untuk hidup dengan kebenaran—bahkan jika itu berarti mati. 

Dan 2.400 tahun kemudian, kata-kata ini masih bergema: 

"Hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani."

 


1 dari 11