Ukuran teks
18

Ketika Bahasa Menjadi Medan Perang

Tahun 1919, seorang jurnalis Amerika bernama H. L. Mencken melakukan sesuatu yang berani—bahkan melawan. 

Dia menulis buku yang mengklaim bahwa bahasa yang digunakan orang Amerika bukan bahasa Inggris yang rusak, tapi bahasa yang berbeda dan setara—bahkan superior. 

Ini adalah heresy. Pengkhianatan linguistik. 

Bayangkan konteksnya: Saat itu, Amerika masih dianggap sebagai koloni budaya dari Inggris. Kritikus Inggris menertawakan cara orang Amerika berbicara—mengatakan mereka "membunuh bahasa Shakespeare." Akademisi Amerika sendiri merasa malu dan mencoba meniru aksen Inggris agar terdengar "berpendidikan." 

Lalu datang Mencken dengan pesan yang mengguncang: 

"Bahasa Amerika bukan inferior. Bahasa Amerika lebih hidup, lebih kreatif, lebih demokratis, dan lebih vital daripada bahasa Inggris Britania yang kaku dan mati." 

Buku "The American Language" bukan sekadar kamus atau studi linguistik. Ini adalah manifesto kemerdekaan budaya—deklarasi bahwa Amerika tidak hanya merdeka secara politik, tapi juga secara linguistik. 

Dan seperti semua revolusi, ini dimulai dengan penolakan untuk malu. 

Mari kita lihat bagaimana sebuah bangsa menciptakan bahasanya sendiri—dan dalam prosesnya, mengubah cara seluruh dunia berbicara.

 


1 dari 13