Ukuran teks
18

Paradoks Pernikahan Modern

Bayangkan dua pasangan yang menikah di tahun yang sama. 

Pasangan A - Sarah dan David Lima tahun menikah. Mereka menggambarkan pernikahan mereka sebagai "perjalanan penemuan diri yang luar biasa." David mendukung Sarah ketika dia memulai bisnis. Sarah mendorong David mengejar passion-nya di fotografi. Mereka saling menantang untuk tumbuh. Makan malam penuh percakapan mendalam tentang mimpi, ketakutan, makna hidup. Mereka merasa lebih hidup, lebih lengkap, lebih menjadi diri sendiri sejak menikah. 

Pasangan B - Jessica dan Mark Juga lima tahun menikah. Mereka menggambarkan pernikahan mereka sebagai "kekecewaan besar." Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada kekerasan. Hanya... hampa. Percakapan tentang siapa yang akan ambil susu di supermarket. Malam-malam diam-diam scroll ponsel di sofa terpisah. Merasa kesepian meskipun ada pasangan di samping. Berpikir: "Apa ini saja selamanya?" 

Apa bedanya? Keduanya orang baik. Keduanya menikah dengan niat serius. Keduanya punya konflik normal. 

Inilah paradoks yang diteliti Eli J. Finkel, profesor psikologi di Northwestern University, selama lebih dari 15 tahun: 

Pernikahan hari ini memiliki potensi untuk lebih memuaskan daripada kapan pun dalam sejarah manusia. Namun di saat yang sama, pernikahan hari ini juga lebih rapuh, lebih rentan terhadap kekecewaan dan kegagalan. 

Kita hidup di era "all-or-nothing marriage"—pernikahan semua atau tidak sama sekali. Pernikahan Anda akan sangat luar biasa atau sangat mengecewakan. Tidak ada lagi zona tengah "cukup baik." 

Mengapa ini terjadi? Dan lebih penting: Apa yang bisa Anda lakukan tentang itu?

Mari kita mulai dengan melakukan perjalanan waktu—untuk memahami bagaimana kita sampai di sini.

 


1 dari 10