Ukuran teks
18

Serangan Jantung yang Diabaikan

2018. Ruang gawat darurat sebuah rumah sakit di New York. 

Seorang perempuan berusia 53 tahun datang dengan keluhan nyeri dada, mual, dan keringat dingin. Dia mengatakan dadanya terasa "seperti ada gajah duduk di atasnya." 

Perawat mencatat keluhannya. Tapi di catatan medis, dia menambahkan: "Pasien tampak cemas. Mungkin serangan panik." 

Perempuan itu menunggu. Satu jam. Dua jam. Tiga jam. 

Sementara itu, seorang pria dengan keluhan serupa—yang datang 30 menit setelahnya—langsung dibawa ke ruang pemeriksaan, mendapat EKG dalam 10 menit, dan diagnosis dalam 30 menit: serangan jantung. 

Ketika perempuan itu akhirnya diperiksa—empat jam kemudian—dia juga mengalami serangan jantung. Tapi terlambat. Kerusakan jantungnya lebih parah. Peluang bertahannya lebih rendah. 

Mengapa dia diabaikan? 

Karena dia perempuan. Dan dalam sejarah kedokteran yang panjang, keluhan perempuan sering dianggap "cuma di kepala saja"—histeria, kecemasan, dramatisasi. 

Dr. Elizabeth Comen, seorang onkolog yang telah menghabiskan puluhan tahun merawat perempuan dengan kanker, menulis buku ini setelah melihat pola yang sama berulang kali: Perempuan tidak dipercaya. Rasa sakit mereka diabaikan. Penyakit mereka salah diagnosis. 

Dan ini bukan hanya masalah masa lalu. Ini terjadi hari ini, di rumah sakit-rumah sakit modern, dengan dampak yang mematikan.

"All in Her Head" mengungkap bagaimana bias gender dalam kedokteran—yang berakar pada kesalahpahaman selama ribuan tahun—masih membunuh perempuan di abad ke-21. 

Mari kita mulai dari awal. Mari kita lihat bagaimana semuanya menjadi sangat salah.

 


1 dari 9