Ukuran teks
18

Duel di Weehawken

Pagi itu, 11 Juli 1804, kabut tebal menyelimuti tebing di Weehawken, New Jersey. 

Dua perahu menyeberangi Sungai Hudson dalam keheningan. Di perahu pertama: Alexander Hamilton, usia 49 tahun, mantan Menteri Keuangan pertama Amerika Serikat, penulis Federalist Papers, arsitek sistem finansial Amerika. 

Di perahu kedua: Aaron Burr, Wakil Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat. Mereka berdua datang untuk satu tujuan: duel maut. 

Pada pukul 7 pagi, kedua pria berdiri berhadapan dengan jarak 10 langkah. Pistol terangkat. Tembakan meledak. 

Hamilton terjatuh, peluru menembus hati dan hatnya. Dia akan meninggal keesokan harinya dalam penderitaan luar biasa, meninggalkan istri dan tujuh anak yang sangat dia cintai. 

Bagaimana seorang pria yang begitu brilian—yang membangun sistem keuangan negara dari nol, yang menulis lebih dari 51 dari 85 Federalist Papers, yang menjadi tangan kanan George Washington—berakhir dengan kematian yang begitu tragis? 

Dan mengapa, selama 200 tahun setelah kematiannya, Alexander Hamilton hampir terlupakan dalam sejarah Amerika—dibayangi oleh Jefferson, Madison, bahkan Burr yang membunuhnya? 

Ron Chernow, penulis biografi pemenang Pulitzer, menghabiskan bertahun-tahun meneliti kehidupan Hamilton dan menemukan kebenaran yang mengejutkan: 

Amerika hari ini—dengan sistem kapitalisnya, bank sentralnya, pemerintah federal yang kuat—adalah Amerika yang Hamilton bayangkan. Bukan Jefferson. Bukan Madison. Hamilton. 

Tapi siapa sebenarnya Alexander Hamilton? Bagaimana anak yatim piatu haram dari pulau kecil di Karibia bisa naik menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Amerika?

 


1 dari 11