Ukuran teks
18

Ketika Kesuksesan Menjadi Penjara

Bayangkan Anda sudah mencapai semua yang Anda impikan. 

Buku-buku Anda diterjemahkan ke 80 bahasa. Puluhan juta orang membaca kata-kata Anda. Anda berkeliling dunia, bertemu dengan pemimpin spiritual, disambut di mana-mana sebagai guru. 

Tapi di malam sunyi, ketika semua orang pulang, ketika Anda sendirian dengan diri sendiri—Anda merasakan kekosongan yang mengerikan. 

Anda sudah kehilangan koneksi dengan Tuhan. 

Ini adalah kondisi Paulo Coelho di tahun 2006. Penulis "The Alchemist"—buku yang telah menginspirasi jutaan orang untuk mengikuti impian mereka—kini tidak bisa menemukan impiannya sendiri. 

Dia menulis, tapi tanpa jiwa. Dia berbicara tentang spiritualitas, tapi tidak merasakannya. Dia mengajarkan tentang mengikuti tanda-tanda alam semesta, tapi dia sendiri buta terhadap tanda-tanda itu. 

Seperti yang dia tulis: "Saya seperti musisi yang menguasai teknik sempurna tetapi kehilangan jiwa dalam musiknya." 

Lalu datang panggilan dari Master J—guru spiritualnya—dengan instruksi yang aneh: 

"Kamu harus pergi. Naik kereta Trans-Siberian dari Moskow ke Vladivostok. 9,288 kilometer melintasi stepa, gunung, dan hutan Siberia. Di sana kamu akan menemukan apa yang hilang." 

Paulo tidak mengerti. Mengapa harus ke Siberia? Apa yang akan dia temukan di sana?

Tapi dia tahu: ketika Master memberikan tugas, itu bukan permintaan. Itu adalah keharusan.

Jadi dia pergi. Tidak tahu bahwa perjalanan ini akan membawanya tidak hanya melintasi Rusia—tetapi melintasi waktu itu sendiri. Kembali ke kehidupan-kehidupan sebelumnya. Ke kesalahan yang belum diampuni. Ke cinta yang belum selesai. 

Dan pada akhirnya, ke sebuah titik yang disebut Aleph—tempat di mana semua waktu dan semua tempat bertemu dalam satu momen kecil yang kekal. 

Mari kita mulai perjalanan ini.

 


1 dari 10