Diagnosis yang Mengubah Segalanya
17 September 2013. Kai-Fu Lee duduk di ruang pemeriksaan dokter, menunggu hasil CT scan.
Dia adalah salah satu eksekutif teknologi paling sukses di dunia. Mantan presiden Google China. Pendiri venture capital firm yang berinvestasi di ratusan startup AI. Bekerja 80+ jam seminggu. Tidur 4-5 jam per malam. Bangga dengan etos kerjanya yang brutal.
Lalu dokter masuk dengan ekspresi serius.
"Mr. Lee, Anda punya kanker stadium empat. Tumor di sepuluh tempat di tubuh Anda. Tanpa pengobatan agresif, Anda punya... beberapa bulan."
Dunia berhenti berputar.
Dalam sekejap, semua yang dia kejar—kesuksesan, kekayaan, pengakuan—tiba-tiba terasa hampa. Semua email yang tidak terbalas, semua meeting yang terlewat dengan anak-anaknya, semua momen yang dikorbankan untuk pekerjaan—tidak ada yang bisa dibeli kembali.
Untungnya, setelah pengobatan intensif selama 17 bulan, kankernya masuk remisi. Kai-Fu Lee selamat.
Tapi dia tidak sama lagi.
Pengalaman mendekati kematian itu mengubah cara dia melihat teknologi, AI, dan masa depan kemanusiaan. Dan transformasi personal itu membentuk buku ini—AI Superpowers.
Buku ini bukan sekadar tentang algoritma atau kompetisi teknologi antara Amerika dan China (meski itu bagian pentingnya). Ini tentang pertanyaan yang lebih dalam:
Ketika mesin bisa melakukan hampir semua yang manusia lakukan—apa yang membuat kita tetap manusia?
Mari kita mulai perjalanan ini.