Ketika Kita Terlalu Banyak Berpikir
Bayangkan Anda berdiri di depan lukisan abstrak di galeri seni.
Warna-warna meledak di kanvas. Goresan kuas yang energetik. Komposisi yang membuat mata Anda bergerak dengan cara tertentu. Ada sesuatu yang menggerakkan Anda—perasaan yang tidak bisa Anda beri nama, sensasi yang sulit dijelaskan.
Lalu seseorang di sebelah Anda—mungkin seorang kritikus seni, mungkin teman yang sok tahu—mulai berbicara:
"Ini jelas representasi dari keterasingan manusia modern di bawah kapitalisme. Warna merah melambangkan kemarahan terhadap penindasan. Garis-garis vertikal adalah jeruji penjara masyarakat. Artis sedang mengekspresikan trauma masa kecilnya..."
Dan tiba-tiba, pengalaman Anda berubah.
Anda tidak lagi merasakan lukisan itu. Anda sedang menganalisisnya. Anda tidak lagi mengalami seni—Anda sedang memecahkan teka-teki.
Keajaiban menghilang.
Inilah yang Susan Sontag sebut sebagai tyranny of interpretation—tirani penafsiran. Dan pada tahun 1964, dalam esai yang akan mengubah kritik seni selamanya, dia menulis satu kalimat yang menggelegar:
"In place of a hermeneutics we need an erotics of art."
Terjemahan bebas: "Alih-alih terus menafsirkan seni, kita perlu merasakan kenikmatannya."
"Against Interpretation"—kumpulan esai yang diterbitkan 1966—adalah seruan untuk berhenti membedah seni sampai mati dan mulai mengalaminya dengan seluruh indera kita.
Ini bukan seruan anti-intelektual. Sontag sendiri adalah intelektual brilian. Ini adalah seruan untuk mengembalikan keseimbangan: antara pikiran dan tubuh, antara analisis dan pengalaman, antara makna dan sensasi.
Mari kita jelajahi pemikiran revolusioner ini.