Ukuran teks
18

Paradoks Kemakmuran

Bayangkan ini: Tahun 1957, Amerika Serikat. 

Ekonomi sedang booming. Mobil baru mengkilap di setiap garasi. Televisi warna di setiap ruang tamu. Kulkas penuh makanan. Lemari penuh pakaian. Mall bermunculan di mana-mana. 

Ini adalah era kemakmuran terbesar dalam sejarah manusia. Rata-rata orang Amerika hidup lebih baik daripada raja-raja abad pertengahan. 

Tapi ada yang aneh. 

Sekolah-sekolah kehabisan dana, bangunannya bobrok. Rumah sakit kekurangan tempat tidur. Taman kota tidak terawat. Jalan raya penuh lubang. Transportasi publik buruk. Polusi meningkat. 

Keluarga punya dua mobil mewah—tapi harus parkir di jalan berlubang dan berpolusi.

Anak-anak punya mainan tercanggih—tapi sekolah mereka kekurangan guru dan buku. 

Rumah-rumah megah dengan peralatan modern—tapi air minum dari sistem publik yang buruk dan tidak aman. 

Bagaimana bisa masyarakat begitu kaya secara privat, tapi begitu miskin secara publik? 

Ini adalah paradoks yang diamati oleh ekonom John Kenneth Galbraith pada tahun 1958 dalam buku monumentalnya, "The Affluent Society." 

Galbraith tidak menulis buku ekonomi biasa yang penuh rumus dan grafik. Dia menulis kritik tajam terhadap bagaimana masyarakat modern mendefinisikan kesuksesan, kemakmuran, dan kebahagiaan.

Dia mengajukan pertanyaan radikal: Apa gunanya semua kemakmuran ini jika kita tidak menggunakannya untuk hal-hal yang benar-benar penting? 

Lebih dari 65 tahun kemudian, pertanyaan itu masih sangat relevan. Mungkin bahkan lebih relevan. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 12