Jembatan yang Dibangun dalam 12 Hari
Juni 2023. Jembatan Interstate 95 di Philadelphia runtuh setelah truk tangki meledak di bawahnya.
I-95 adalah urat nadi ekonomi Pantai Timur Amerika—400.000 kendaraan melintas setiap hari. Jembatan ini menghubungkan New York, Philadelphia, dan Washington DC. Ketika runtuh, perdagangan terhenti. Kemacetan meledak. Kerugian ekonomi diperkirakan 20 juta dollar per hari.
Berapa lama biasanya butuh untuk membangun kembali jembatan seperti ini di Amerika? Dua tahun. Tiga tahun. Mungkin lebih.
Tapi Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro, membuat keputusan radikal: Buang semua regulasi yang tidak penting. Fokus pada hasil.
Tidak ada tender bertele-tele. Tidak ada kajian lingkungan berbulan-bulan. Tidak ada rapat komite tanpa akhir. Hanya satu tujuan: Bangun jembatan ini secepat mungkin.
Hasilnya? 12 hari.
Dalam waktu kurang dari dua minggu, jembatan yang biasanya butuh dua tahun selesai dibangun. Dengan kualitas yang sama. Dengan keselamatan yang sama. Bahkan lebih cepat dari target awal.
Ketika jembatan dibuka kembali, Shapiro berkata: "Kita baru saja membuktikan sesuatu yang penting—ketika kita memutuskan untuk membangun, kita masih bisa melakukannya."
Pertanyaannya: Jika kita bisa membangun jembatan dalam 12 hari ketika darurat, mengapa butuh dua tahun dalam kondisi normal?
Inilah pertanyaan yang menjadi inti dari buku "Abundance"—sebuah buku yang mengubah percakapan politik di Amerika dan mulai mempengaruhi kebijakan di berbagai negara.
Ezra Klein dan Derek Thompson, dua jurnalis paling berpengaruh di Amerika, menghabiskan bertahun-tahun meneliti satu paradoks yang mengganggu:
Amerika adalah negara terkaya dalam sejarah manusia. Teknologi kita lebih maju dari sebelumnya. Kita tahu apa yang perlu dibangun. Tapi kita tidak bisa membangunnya.
Rumah terlalu mahal. Proyek infrastruktur terlambat dan melebihi anggaran. Energi terbarukan terlambat dibangun meskipun krisis iklim semakin parah. Obat-obatan baru terhambat regulasi yang tidak efisien.
Bukan karena kita tidak punya uang. Bukan karena kita tidak punya teknologi. Bukan karena kita tidak punya talent.
Kita tidak bisa membangun karena kita memilih untuk tidak membangun. Kita telah menciptakan sistem yang brilian dalam mengatakan "tidak," tapi sangat buruk dalam mengatakan "ya."
Dan pilihan ini—pilihan kelangkaan yang disengaja—menghancurkan kehidupan orang biasa.
Mari kita mulai.