Ukuran teks
18

Biksu yang Jatuh Cinta

Bayangkan ini: Anda adalah seorang biksu. Tiga tahun di ashram India. Kepala dicukur. Bangun jam 4 pagi untuk meditasi. Tidak punya harta. Tidak punya ambisi duniawi. Hidup dalam ketenangan spiritual yang dalam. 

Lalu Anda jatuh cinta. 

Ini adalah kisah Jay Shetty. 

Pada usia 22 tahun, setelah lulus dari sekolah bisnis bergengsi di London, Jay mengambil keputusan yang membuat semua orang—keluarga, teman, dosen—berpikir dia sudah gila: dia menjadi biksu. 

Tiga tahun dia jalani. Meditasi. Melayani. Belajar kebijaksanaan kuno. Menemukan kedamaian yang tidak pernah dia temukan dalam kehidupan modern yang hiruk-pikuk. 

Tapi gurunya melihat sesuatu dalam diri Jay. Dan gurunya berkata: "Waktumu di sini sudah selesai. Waktumu untuk kembali ke dunia." 

Jay pulang. Bingung. Broken. Dia sudah menemukan tujuan hidupnya sebagai biksu—dan sekarang dia harus memulai dari nol. 

Dan kemudian, dia bertemu Radhi. 

Radhi adalah teman masa kecilnya. Sekarang seorang wanita mandiri dengan karir cemerlang. Dan entah bagaimana, di tengah kekacauan transisi dari biksu ke kehidupan normal, Jay jatuh cinta. 

Tapi inilah masalahnya: Biksu tidak diajarkan tentang cinta romantis. 

Mereka diajarkan tentang kasih universal. Tentang melepaskan attachment. Tentang kedamaian dalam kesendirian. Tapi tentang kencan? Tentang komitmen? Tentang pernikahan? Tidak ada pelajaran untuk itu.

Jadi Jay melakukan apa yang dia lakukan terbaik: dia belajar. 

Dia membaca ratusan buku tentang psikologi hubungan. Dia mempelajari penelitian tentang cinta dari ilmuwan modern. Dia menggali kebijaksanaan kuno dari berbagai tradisi. Dan yang paling penting: dia hidup melewatinya. 

Bertahun-tahun kemudian, Jay dan Radhi menikah. Dia menjadi salah satu life coach paling berpengaruh di dunia dengan puluhan juta pengikut. Dan dia menyadari: hampir semua orang struggling dengan cinta—bukan karena mereka tidak ingin cinta, tapi karena tidak ada yang mengajarkan mereka cara mencintai. 

"8 Rules of Love" adalah hasil dari perjalanan itu. Bukan teori dari menara gading. Bukan khotbah dari guru yang merasa superior. Tapi panduan praktis dari seseorang yang pernah tidak tahu apa-apa tentang cinta—dan harus belajar dari awal. 

Mari kita mulai dengan aturan pertama. Dan ini mungkin yang paling tidak terduga.

 


1 dari 7