Ukuran teks
18

Di Medan Perang, Tidak Ada Ruang untuk Amatir

Vietnam, 1972. 

Robert Kiyosaki, usia 25 tahun, berdiri di dek kapal perang, mengawasi helikopter tempur yang akan dia pimpin dalam misi pertamanya sebagai pilot tempur dan komandan unit. 

Tangannya sedikit berkeringat. Jantung berdetak lebih cepat. Tapi dia tidak boleh menunjukkan rasa takut—anak buahnya sedang memperhatikan. 

Dia ingat kata-kata instruktur militernya di akademi: "Seorang pemimpin yang ragu adalah pemimpin yang mematikan. Tidak hanya dirimu yang mati, tapi juga orang-orang yang mempercayaimu." 

Misi itu sukses. Semua orang kembali dengan selamat. Tapi pengalaman itu mengubah Kiyosaki selamanya. 

Bertahun-tahun kemudian, ketika dia membangun bisnis dan menjadi pengusaha sukses, dia menyadari satu hal: 

Entrepreneurship adalah medan perang modern. 

Bedanya: Di medan perang, peluru yang terbang bisa membunuh Anda. Di dunia bisnis, "peluru" yang terbang adalah kegagalan finansial, kebangkrutan, kehilangan reputasi, tim yang bubar. 

Tapi prinsip kepemimpinannya? Persis sama. 

Di medan perang, pemimpin yang buruk membuat pasukannya mati. Di bisnis, pemimpin yang buruk membuat perusahaan mati. 

Di medan perang, disiplin menyelamatkan nyawa. Di bisnis, disiplin menyelamatkan perusahaan.

Di medan perang, keberanian membuat perbedaan antara menang dan kalah. Di bisnis? Sama persis. 

Dalam buku ini, Kiyosaki membagikan 8 pelajaran kepemimpinan militer yang dia pelajari di Vietnam—pelajaran yang kemudian dia gunakan untuk membangun bisnis bernilai jutaan dolar dan menjadi salah satu pendidik finansial paling berpengaruh di dunia. 

Ini bukan teori. Ini bukan konsep abstrak dari buku manajemen. 

Ini adalah pelajaran yang ditempa dalam api, diuji di medan perang, dan terbukti di dunia bisnis.

Mari kita mulai.

 


1 dari 11