Pernikahan yang Hampir Berakhir
Suatu Selasa sore di kantor konseling, Gary Chapman duduk berhadapan dengan pasangan yang sudah menikah delapan tahun.
Sarah menangis. "Aku sudah melakukan segalanya. Aku masak makanan kesukaannya setiap hari. Aku jaga rumah bersih. Aku urus semua urusannya. Tapi dia bahkan tidak pernah bilang terima kasih. Aku merasa seperti pembantu, bukan istri."
David terlihat frustrasi. "Aku tidak mengerti! Aku bekerja keras untuk keluarga ini. Aku tidak pernah lupa hari ulang tahun atau anniversary. Aku belikan hadiah bagus. Tapi dia bilang aku tidak peduli. Apa lagi yang harus aku lakukan?"
Chapman mendengarkan—pola yang sangat familiar. Dia sudah melihat ribuan pasangan seperti ini selama 30+ tahun karirnya sebagai konselor pernikahan.
Dua orang yang jelas-jelas berusaha mencintai satu sama lain. Tapi entah bagaimana, cinta itu tidak sampai.
Seperti dua orang yang berbicara bahasa berbeda, berteriak lebih keras dengan harapan yang lain akan mengerti—tapi tidak pernah benar-benar berkomunikasi.
Lalu Chapman bertanya pada mereka satu pertanyaan sederhana yang mengubah segalanya: "Sarah, apa yang membuat Anda merasa paling dicintai oleh David?"
Sarah menjawab tanpa ragu: "Ketika dia meluangkan waktu untuk duduk dan berbicara dengan saya. Benar-benar mendengarkan. Tidak sambil lihat HP. Hanya kami berdua."
Chapman menoleh ke David. "Dan Anda?"
David berpikir sebentar. "Ketika dia melakukan hal-hal kecil untuk saya—menyiapkan kopi di pagi hari, mengambilkan baju saya. Itu membuat saya merasa dia peduli."
Chapman tersenyum. Dia sudah menemukan masalahnya.
Sarah berbicara "Quality Time" (Waktu Berkualitas). David berbicara "Acts of Service" (Tindakan Pelayanan). Mereka berdua memberikan cinta—tapi dalam bahasa yang tidak dimengerti pasangannya.
David memberikan hadiah (bahasa cintanya sendiri), tapi Sarah inginnya waktu bersama. Sarah melakukan layanan, tapi David inginnya... juga layanan, yang ironisnya dia sudah dapatkan, tapi dia tidak menyadarinya karena yang dia lihat adalah kurangnya waktu berkualitas yang tidak terlalu penting baginya.
Tunggu—ini mulai membingungkan, kan? Tepat. Itulah mengapa kita perlu memahami lima bahasa cinta.
Enam bulan setelah sesi itu, Sarah dan David kembali. Tapi kali ini mereka tersenyum, berpegangan tangan.
"Kami seperti menikah lagi," kata Sarah. "Tapi kali ini dengan orang yang tepat—meski orangnya sama."
Inilah kekuatan dari memahami bahasa cinta.
Mari kita mulai.