Ukuran teks
18

Pemimpin yang Terjebak di Tengah

Sarah duduk di kantornya—bukan kantor pojok yang bergengsi, tapi ruang terbuka di lantai tiga—menatap email yang baru saja masuk. 

"Proposal ditolak. Coba lagi dengan pendekatan berbeda. - Management" 

Ini yang ketiga kalinya bulan ini. Dia punya ide brilian untuk meningkatkan efisiensi departemen. Timnya antusias. Datanya solid. Tapi setiap kali, proposal naik ke atas—hilang di birokrasi, ditolak tanpa diskusi yang berarti, atau diabaikan begitu saja. 

Di sisi lain, timnya frustrasi. "Sarah, kenapa kita tidak bisa implementasi ide ini? Kamu kan managernya!" 

Dan rekan-rekan setingkatnya—manager lain di departemen berbeda—kadang kooperatif, kadang kompetitif, kadang cuek saja. 

Sarah merasa seperti sandwich. Tertekan dari atas oleh atasan yang tidak mendengar. Tertekan dari bawah oleh tim yang menuntut hasil. Tertekan dari samping oleh rekan yang kadang bantu, kadang hambat. 

"Mungkin aku harus tunggu sampai jadi direktur," pikirnya. "Baru aku bisa benar-benar memimpin." 

Inilah yang John C. Maxwell sebut "Mitos Posisi"—keyakinan bahwa Anda harus berada di puncak organisasi untuk memimpin dengan efektif. 

Dan ini adalah mitos paling merusak dalam dunia kepemimpinan. 

Karena kenyataannya: 99% kepemimpinan terjadi di tengah organisasi, bukan di puncak. 

Kebanyakan orang tidak pernah mencapai puncak. Tapi itu bukan berarti mereka tidak bisa memimpin. Sebaliknya—pemimpin terbaik adalah mereka yang belajar memimpin dari mana saja mereka berada.

Ini yang Maxwell sebut 360 Degree Leadership—kemampuan untuk memimpin ke segala arah: 

Memimpin ke atas (mempengaruhi atasan Anda) 

Memimpin secara horizontal (mempengaruhi rekan setingkat) 

Memimpin ke bawah (memimpin tim Anda) 

Buku ini bukan untuk CEO atau direktur. Ini untuk Sarah—dan untuk Anda yang merasa terjebak di tengah, merasa tidak punya kekuatan, merasa harus menunggu sampai "nanti" untuk benar-benar memimpin. 

Kabar baiknya: Anda tidak perlu menunggu. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11