Ukuran teks
18

Hutan yang Bukan Hutan

Bayangkan Anda berdiri di hutan Amazon tahun 1492—setahun setelah Columbus mendarat di Amerika. 

Di sekitar Anda, pepohonan raksasa menjulang tinggi. Suara burung dan monyet memenuhi udara. Sungai mengalir jernih. Ini tampak seperti alam liar yang murni, tidak tersentuh manusia sejak awal waktu. 

Inilah gambaran yang diajarkan kepada kita: Amerika sebelum Columbus adalah wilderness—hutan belantara yang masih perawan, dihuni oleh segelintir pemburu-pengumpul yang hidup sederhana, hampir tidak meninggalkan jejak pada tanah mereka. 

Tapi ada masalah dengan cerita ini. 

Itu sepenuhnya salah. 

Charles C. Mann, jurnalis sains yang menghabiskan bertahun-tahun mewawancarai arkeolog, antropolog, dan sejarawan terkemuka, membawa kita pada perjalanan yang mengejutkan: ternyata Amerika pra-Columbus adalah rumah bagi puluhan juta orang, kota-kota yang menyaingi London dan Paris, sistem pertanian yang lebih canggih dari Eropa, dan peradaban yang secara aktif mendesain lanskap yang kita anggap "alami." 

Hutan Amazon yang Anda bayangkan? Sebagian besar adalah taman buatan manusia—hasil dari ribuan tahun pengelolaan hutan oleh penduduk asli. 

Kota terbesar di dunia tahun 1491? Bukan di Eropa atau Asia. Tapi di Meksiko tengah—kota Tenochtitlan dengan populasi lebih dari 200.000 jiwa. 

Dan tragedi terbesar dalam sejarah manusia? Bukan Perang Dunia. Bukan Holocaust. Tapi kehancuran 90% populasi Amerika dalam satu abad setelah Columbus—kematian yang begitu masif sehingga mengubah iklim global.

Ini adalah cerita yang tidak pernah diceritakan dengan lengkap. Cerita tentang dunia yang hilang. Dan mengapa penting bagi kita untuk mengingatnya. 

Mari kita mulai dengan pertanyaan sederhana: Berapa banyak orang yang tinggal di Amerika sebelum Columbus?

 


1 dari 12